Web Analytics
FLASH ARTIKEL
Dibaca 139 X

3t

Sahbat prayers
Bila ia yakin bahwa eksistensi dirinya adalah ruhnya yang merupakan ruh Allah, tentu ia akan berbuat atau tidak berbuat demi kepentingan ruhaninya, dan memelihara badannya hanya sekedarnya saja.

Untuk itu manusia dapat melakukan takhalli (تخلّي), yaitu mematikan diri dengan menumpas hawa nafsu, sehingga sifat-sifat kehewanan melemah. Berarti makannya, minumnya dan lain-lain sekedar untuk sehat hidupnya saja. Maka, kosonglah dari jiwanya sifat-sifat tercela, seperti: sifat kejam, tamak, dan sifat-sifat hewani lainnya.
Setelah itu, ia dapat ber-tahalli (تحلّي), yaitu berkembang dalam hatinya sifat-sifat Allah yang memang ada terpendam di dalam ruhnya, karena hawa nafsunya yang berkuasa.

Kini, setelah sifat-sifat hewani terpendam, muncullah sifat-sifat Allah, seperti: sifat pengasih, penyayang, pemaaf dan lain-lain. 
Semua itu karena munculnya sifat Allah yang غني (ghani/kaya). 
Bukankah Allah SWT itu Maha kaya? Dan kita pun menjadi kaya. Arti kaya ialah tidak membutuhkan apa-apa, bukankah Allah SWT tidak membutuhkan apa-apa?

Nah, pada saat seperti itu kita pun menjadi kaya, dalam arti tidak membutuhkan apa-apa lagi, kita menerima dan menikmati apa yang ada saja dan tidak mencari serta membutuhkan apapun yang tidak ada.

Kemudian sampailah kita kepada ber-tajalli (تجلّي) , kita sudah mulai hidup baru dan dapat keluar dari penjara badan kita sendiri, dan kita hidup dalam ruhani, dan kita bersifat غني (ghani/kaya), tidak membutuhkan apa-apa. Dan hidup dalam keruhanian yang bebas nafsu itulah hidup yang menyenangkan dan baka, karena ruh itu adalah ruhnya Allah.

Dengan ber-tajalli (تجلّي) , kita hidup dalam alam ruhani, maka kita dapat memandang tembus ruang dan waktu

Kolom Komentar