Web Analytics
FLASH ARTIKEL
Dibaca 239 X

Zuhud

Membina manusia berkwalitas yaitu membina akhlaq, dan sebagian akhlaq ialah sikap zuhud; dan zuhud itu sikap tidak mencintai harta ataupun mendewakan pangkat/jabatan. Dengan demikian, manusia menjadi beradab. Dan dalam masyarakat beradab akan terjalin persatuan dan kesatuan. Dan persatuan itu membuat negara menjadi kuat.

Hanya ingatan kepada Allah yang dapat menghalau segala galau.
Hanya ingatan kepada Allah yang dapat menyelipkan rasa aman.
Kepada Allah selalu beriman, hilang semua beban. Hidup tanpa keinginan, melenyapkan penderitaan. Terimalah kesulitan, agar Anda pandai bersyukur dalam kemudahan. Jangan gelisah. Jauhilah gelisah itu, karena dia penjajah. Ciptakan ketenangan dengan mengingat dan mencintai Allah, banyak-banyaklah mengingat asma Allah.

Untuk melakukan daur ulang kemanusiaan dan mengembalikan manusia-manusia menjadi hamba-hamba Allah yang baik, perlu sekali ditausiyahkan kepada masyarakat hal-hal sebagai berikut:
1.       Memutuskan kesyirikan kepada benda
Ibadah maupun zikir karena iman, dan iman itu bertumpu kepada Allah saja; baik itu ibadah perbuatan maupun pikiran. Banyak memikirkan selain Allah merupakan syirik yang tidak terasa. Tunjukkan kesetiaan Anda kepada Allah dengan memperbanyak ingatan kepada Allah. 

2.       Tidak mencintai harta.
Segala benda, tumbuhan hewan diciptakan Allah untuk kita. Dan kita bukan untuk benda, diri kita untuk menuhankan Allah. Ingat, Allah yang menciptakan dan membesarkan kita dengan rahim-Nya. Allah berhak untuk disembah dan kita mempunyai hak untuk menyembah-Nya

3.       Orientasi berpikir ke masa depan.
Dunia penting sebagai sarana atau jembatan menuju rumah abadi di akhirat. Boleh membuat jembatan dari besi ataupun emas, tapi sadarlah, tidak ada orang yang mau menetap atau tidur di jembatan. Jembatan adalah jembatan, pasti dilalui. Walaupun terbuat dari emas, janganlah dicintai karena ia hanyalah sarana. Kampung halaman kita adalah rumah abadi di akhirat.

4.       Mempunyai sikap “itsar”. Itsar adalah sikap mementingkan saudaranya lebih dari dirinya sendiri, dan mengutamakan saudaranya lebih dari dirinya sendiri. Dalam sejarah, sikap itsar ini pernah dilakukan oleh kaum Anshar, mereka itsar terhadap kaum Muhajirin.


Kolom Komentar